Welcome to Cuma Iseng

DRBear's speaking, please keep Cuma Iseng - ing! XD


Di dataran yang kering, batu-batu besar dan kecil meluncur dengan sendirinya. Batu batu tersebut biasa disebut sailing stone atau lebih dikenal sliding rocks atau moving rocks. Sailing Stone adalah fenomena yang luar biasa. Dimana batu dapat bergerak sendiri tanpa dorongan hewan atau manusia. Kaya di spongebob yang episode kraby pizza jadi disini batunya bisa bergerak sendiri. /omg




Sailing Stone bergerak setiap 2 atau 3 tahun sekali atau bisa juga lebih. Arah berjalan bebatuan tersebut pun berbeda - beda kadang ke kanan , ke kiri bahkan bisa kembali ke posisi awalnya.

Tak ada yang pernah melihat batu itu bergerak. Hanya jejak-jejak di atas permukaan tanah yang menjadi satu - satunya bukti yang menunjukkan bahwa mereka benar - benar bergerak. Fenomena ini bukanlah ulah alien , tapi terjadi di sebuah lokasi di Bumi. Tepatnya di timur pegunungan Panamint di wilayah Death Valley National Park, California, ada sebuah tempat yang disebut Racetrack Playa. Letaknya 3.708 diatas permukaan laut , panjangnya 2,8 mil dan lebarnya 1,3 mil. Tampat ini memiliki posisi hampir sama tinggi dari ujung utara ke ujung selatan. Ujung utara hanya lebih tinggi 5 cm dari ujung selatan.

Playa?



Sebelumnya kita harus tau apa arti Playa itu. Playa adalah danau kering. Ketika periode hujan lebat , curahan air akan turun dari gunung terdekat masuk ke Playa dan membentuk sebuah danau dangkal yang berumur pendek. Saat cuaca berubah menjadi panas , kumpulan air dangkal tersebut menguap dan meninggalkan lapisan lumpur yang tipis dan lembut. Ketika lumpur itu mengering , ia mulai mengerut dan memecah membentuk mosaik-mosaik yang indah. Dan di tempat inilah fenomena aneh tersebut terjadi.

Sepertinya ketika tidak ada yang melihat , batu-batu dolomite yang terpecah dari tebing bergerak dengan sendirinya berjalan melintasi permukaan danau yang kering. Batu - batu itu meninggalkan jejak yang terlihat dengan jelas diatas permukaan tanah, satu - satunya bukti yang menunjukkan bahwa mereka benar - benar bergerak.

Fenomena ini sebenarnya telah diketahui lebih dari seratus tahun yang lalu oleh para penjelajah dan penambang emas. Namun penelitian yang lebih serius baru dilakukan pada tahun 1948. Sampai hari ini , fenomena ini masih belum dapat dijelaskan dengan memuaskan.

Teori Tentang Sailing Stone


Ada dua teori utama mengenai penyebab fenomena ini. Yang pertama mengatakan , penyebabnya adalah lapisan es tipis di atas permukaan tanah. Lainnya , yakin penyebabnya kelembaban dan angin.

Penelitian tentang Sailing Stone



Seperti dimuat situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) , 17 mahasiswa dan lulusan Lunar and Planetary Sciences Academy (LPSA) NASA's Goddard Space Flight Center di  Greenbelt baru - baru ini mengunjungi lokasi itu untuk menginvestigasi bagaimana batu-batu itu bergerak melintasi dataran yang nyaris kosong. Beberapa batu diyakini bergerak secepat orang berjalan. Tapi, tak ada satupun pernah melihat batu-batu itu bergerak. Para ilmuwan juga belum menyimpulkan , apa sebenarnya yang membuat bebatuan bergerak. Spekulasi yang beredar , karena dipindahkan hewan , pengaruh gravitasi , atau gempa bumi.

"Ketika melihat batu dan jejaknya yang menakjubkan , anda akan memasuki ruang berisi ide tentang apa yang sebenarnya terjadi." kata Mindy Krzykowski, magang dari Universitas Alaska di Fairbanks.

Tim dibagi lima masing - masing dipimpin seorang ilmuwan Goddard. Tugas mereka , mengumpulkan data, koordinat GPS dari masing - masing batu dan memotonya. Mereka menggali sensor kecil yang disebut Hygrochrons , yang atas seizin pihak Taman Nasional , telah terkubur tiga bulan sebelumnya. Sensor itu menangkap data suhu dan kelembaban. Tim juga menandai batas jejak dengan paku payung , masuk ke celah-celah tanah liat untuk mengukur panjang , lebar , dan dalamnya. Mereka membenarkan pengamatan sebelumnya bahwa beberapa batu besar  bergerak lebih jauh dari yang kecil. "Apa yang terjadi di Racetrack Playa begitu rumit. Tidak segera diketahui , data apa yang sebenarnya relevan." kata Brian Jackson , salah satu pemimpin tim. Dia dan teman penelitiannya telah mempelajari Racetrack Playa sejak tahun 2006 dan baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan yang  membandingkan situs itu dengan danau kering di satelit Saturnus , Titan. Sempat  muncul spekulasi bahwa apa yang terjadi di Racetrack Playa memiliki unsur yang membantu mereka bergerak. Namun ,  batu-batu tersebut hanya batu dolomit gelap yang kebetulan ada di daerah dataran tinggi. "Batuan dolomit relatif umum. Justru lokasi di mana batu-batu itu ada  yang membuat mereka spesial." tambah Jackson.

Leva McIntire dari Seattle Pacific University , memiliki hipotesis lain. Dia menduga bahwa batu bergerak oleh regelation (proses yang biasanya berhubungan dengan gletser dan gunung - gunung). Regelation disebabkan oleh perbedaan tekanan pada dua sisi objek. Air di satu sisi tetap cair dan bocor di sisi lain , memerangkap gelembung udara di sisi kedua , yang berbentuk es. McIntire berpikir ini bisa terjadi pada playa tersebut. Dia mencatat bahwa ada formasi gelembung-seperti di tanah liat di samping batu tertentu. "Teori ini mungkin dapat menjelaskan bagaimana memindahkan batu besar," katanya , "karena tidak memerlukan daya pengapungan dari batu."

Belum disimpulkan penyebab pasti pergerakan batu. "Tak semua masalah dalam ilmu planet terpecahkan," kata Mindy Krzykowski.

 
Sekian , Keep cuma iseng - ing! /bye

0 comments :

Posting Komentar