Welcome to Cuma Iseng

DRBear's speaking, please keep Cuma Iseng - ing! XD

Penulis : Anna Xambo (The Open University), Eva Hornecker (Bauhaus-Universitat Weimar). Paul Marshall (University College London), Sergi Jorda (Universitat Pompeu Fabra), Chris Dobbyn and Robin Laney (The Open University)


Abstract :
There has been little research on how interactions with tabletop and Tangible User Interfaces (TUIs) by groups of users change over time. In this article, we investigate the challenges and opportunities of a tabletop tangible interface based on constructive building blocks. We describe a long-term lab study of groups of expert musicians improvising with the Reactable, a commercial tabletop TUI for music performance. We examine interaction, focusing on interface, tangible, musical, and social phenomena. Our findings reveal a practicebased learning between peers in situated contexts, and new forms of participation, all of which is facilitated by the Reactable’s tangible interface, if compared to traditional musical ensembles. We summarise our findings as a set of design considerations and conclude that construction processes on interactive tabletops support learning by doing and peer learning, which can inform constructivist approaches to learning with technology.

Pengkaji : Rizky D. R. B. / G64120096

Ulasan / Kajian :

Gambar : Tabletop Reactable (untuk yang belum mengetahuinya)*

Paper ini berisikan mengenai analisis dari sebuah tabletop dan tangible user interface yang membantu sebuah kelompok melakukan aktivitas grup di meja. Penelitian yang berbasis pada bidang ini terkesan “one-off”, hanya sekali dan tidak dilanjutkan. Hal ini dikarenakan penggunaan tabletop yang dapat dibilang jarang dan pengembangannya yang kompleks. Untuk memudahkan user menggunakannya, sebuh tabletop harus memiliki sebuah tangible user Interface yang mudah digunakan (user friendly). Oleh karena itu, banyak tabletop yang interfacenya dibuat berdasarkan bagaimana sebuah kelompok user bekerja dengan tabletop yang spesifik dalam periode waktu tertentu pada tabletop terdahulu. Tabletop yang akan dibahas pada paper ini bernama Reactable. Reactable adalah sebuah tabletop yang bertujuan untuk menjalankan atau membuat lagu elektronik, dengan berwujud kubus dan saling terhubung satu sama lain. Bagian yang dianalisis dari Reactable adalah karakteristik interface (bagaimana karakteristik interface Reactable mempengaruhi sifat dari suatu grup), interaksi tangible (bagaimana suatu property dari tangible interface memfasilitasi progress dari suatu grup), improvisasi musical (bagaimana suatu organisasi melakukan improvisasi ketika menggunakan Reactable) dan factor social dalam mengembangkan kepakaran (pembelajaran secara kolaboratif melalui berbagai proses konstruktif pada tabletop tangible user interface).

Penelitian ini dilakukan oleh 12 partisipan dan dibagi menjadi empat kelompok mulai dari pemula hingga pakar musik yang berada dalam range umur 22 hingga 54. Lab nya terletak di musik studio di Universitas Pompeu Fabra di Barcelona. Ruangan tersebut terisolasi dari kelas yang sibuk dan dipasang Reactable secara permanen di tengah ruangan. Labnya juga dibuat kedap suara dan pencahayaan yang redup, suasana tersebut adalah suasana yang umum digunakan oleh partisipan. Metode yang digunakan adalah kualitatif untuk menganalisa video dengan detail dan menggunakan interaction analysis untuk mengidentifikasi tema. Video tersebut merupakan hasil rekaman dari pengujian interface yang dilakukan tiap kelompok. Setiap sesi terdiri dari 15 – 45 menit. Partisipan dapat melakukan pengecekan terhadap manual Reactable yang telah diberikan satu hari sebelum sesi pertama jika dibutuhkan, dapat stop kapan pun selama satu sesi, dan diperingatkan jika waktu sesi satu menit lagi akan habis. Satu set Reactable menggunakan 39 objek yang terdiri dari 12 sound generator, 10 sound effect, 10 control generator dan 7 global control. Setiap sesi videonya akan direkam menggunakan dua kamera degan posisi yang tidak mengganggu.

Table space pada Reactable tidak secara otomatis menyediakan territorial individual untuk setiap pengguna. Namun Reactable menggunakan dynamic patching, yaitu pembuatan output secara otomatis dari hubungan antar element berdasarkan kedekatannya. Efek yang ditimbulkan dari kedua karakteristik interface di atas adalah user melakukan eksplorasi dan penemuan secara kreatif dengan melakukan beberapa percobaan. Dengan adanya hal tersebut, partisipan memperoleh mekanisme untuk mengatur sendiri “daerah bagiannya” dan mengembangkan cara – cara baru membagi thread untuk membuat sebuah efek musical yang baik. Pada sisi interaksi tangiblenya, user menggunakan gesture tangan untuk meraih suatu objek dengan sedikit eye contact dengan orang lain namun juga tetap focus terhadap permukaan tabletop. Kegiatan yang bersamaan tersebut membuat pandangan terhadap tabletop menjadi sedikit, namun setiap kali melakukan suatu gesture (memutar objek, menggerakan, dll) Reactable akan menghasilkan suara yang sesuai dengan gesture sehingga user mengetahui apa yang dia lakukan walaupun tabletop sedikit tertutup oleh tangan. Pada improvisasi musikal, user mengalami kendala ketika memahami fungsi yang ada di interface pada saat inisialisasi, salah satu contohnya adalah salah menggunakan objek programmer yang didesain untuk memprogram ulang objek menjadi sampel. Namun, semua kelompok terlihat dapat beradaptasi dengan kekurangan Reactable dalam sound preview (tidak ada headphone atau alternative lain untuk mendengarkan suara yang ingin dipilih). Reactable menyediakan kesempatan untuk pengiriman pengetahuan musikal melalui beberapa proses yang dikirim melalui interface tangible dengan real – time visual feedback. Aksi individual terjadi dalam penelitian, alasan mereka mencoba sendiri – sendiri adalah kesadaran akan masalah yang sering terjadi pada inisialisasi. Pada Reactable ada sebuah fitur tambahan yaitu interface feedback, tugas fitur tersebut adalah membantu user dalam mengidentifikasi dan melakukan control terhadap aksi mereka ketika melakukan eksplorasi baik sendiri maupun kelompok. Fitur tersebut menuntun  dan mendorong para partisipan dalam mencoba Reactable sendiri. Sedangkan pada aksi kelompok ditemukan kesetaraan partisipasi dan tidak ditemukan bukti dari role music. Konfigurasi dari objek menghasilkan output music yang berubah secara konstan. Pembagian role dinamis dan terjadi secara nonverbal, seperti melody versus rhythm, solo versus accompaniment, dll. Setiap kelompok mengembangkan sekuens musik berbeda menggunakan kombinasi dari objek yang membuat semakin kompleks dengan keragaman yang bergantung pada dinamika dan situasi grup. Proses sosisal yang terjadi ketika penelitian ada dua yaitu, mimicking dan komunikasi verbal. Mimicking adalah salah satu perilaku untuk meniru aksi atau sifat dari orang lain. Pada keempat grup, mimicking selalu terjadi pada setiap sesi tanpa saling berbicara. Kami mendapatkan bahwa seorang musisi dalam satu kelompok biasanya tidak melihat satu sama lain dan bergantung pada pandangan peripheral. Mimicking digunakan untuk pembelajaran dari suatu grup secara implisit. Mimicking mengizinkan musisi untuk mengirim teknik dan praktik antar dua atau lebih musisi. Mimicking terjadi pada pembelajaran konteks hands-on dan face-to-face dengan menggunakan constructive building block dari Reactable. Spesifik teknik dan praktis yang berhasil ditiru berbeda – beda tergantung dari situasi dan dinamika grup. Komunikasi verbal terjadi hamper setiap permulaan dan akhir dari sesi, dan terkadang di tengah. Komunikasi verbal digunakan untuk membagikan pengetahuan secara explicit. Kejadian yang menuntut komunikasi verbal adalah ketika ada error, penemuan sesuatu, tanya jawab, think aloud, dan diskusi grup. Selain untuk berbagi ilmu, komunikasi verbal juga digunakan untuk berbagi ekspresi dari kepuasan user. Sama seperti mimicking, komunikasi verbal juga bergantung pada dinamika dan konteks situasi dari suatu grup dan keduanya mampu meningkatkan koordinasi dari suatu grup.  

                Tangible user interface yang berbasiskan constructive building block meningkatkan hands-on, social tinkering dan pengembangan modular dari dasar hingga kompleks. Interaksi pada tabletop meningkatkan koordinasi grup dan pembelajaran dengan mieniru aksi dan tingkah laku partisipan lain melalui interaksi instrumental pada konteks tertentu. Partisipasi dari setiap anggota juga menjadikan sebuah tantangan bagi kelompoknya mengenai masalah yang kemungkinan ditimbulkan jika suatu objek dirubah dengan sengaja ataupun tidak. Kesimpulannya, Reactable dapat membuat sebuah pembelajaran  kolaboratif dan peer learning yang efektif dan secara potensial dapat memberikan informasi konstrukif untuk belajar membuat music elektronik dengan menggunakan hardware yang jarang digunakan yakni tabletop. Penulis berharap, semoga penelitian ini dapat berguna dalam penelitian, edukasi dan pengembangan tabletop TUI dan juga penelitian terhadap komunikasi nonverbal.



8 komentar : Leave Your Comments

  1. Bahasan yang unik sekali bujung, sangat bermanfaat untuk menambah wawasan tentang Peer Learning!

    BalasHapus
  2. Ulasannya sangat menarik. Penyajiannya juga sangat baik sehingga akan mudah untuk mengerti tentang Peer Learning.

    BalasHapus
  3. Kajian yang informatif Ky, saya baru tahu mengenai Tabletop Reactable ini. Menurut saya Tampilannya sangat unik. Serta fungsinya untuk menjalankan atau membuat lagu elektronik dan untuk Peer learning sangat menarik

    BalasHapus
  4. Kajian yang menarik karena baru bagi saya, penggunaan tabletop untuk musik. Sayang sekali masih sedikit penelitian mengenai hal ini, mungkin kedepannya bisa dikaji lagi penelitian terkait hal tersebut

    BalasHapus
  5. Sangat menarik. Interaksi yang 'futuristik' menurut saya, seolah-oleh merasakan objek yang divisualisasi secara langsung.

    Mungkin diluar pembahasan materi, tapi saran saya jangan menulis suatu paragraf dengan terlalu banyak kalimat karena akan menyulitkan pembaca memahami isi resume ini secara keseluruhan. Cukup tuliskan kalimat yang berhubungan dengan intisari dari paragraf. :D

    BalasHapus
  6. kajian yang bagus, menambah informasi pengetahuan mengenai peer learning...

    BalasHapus
  7. penggunaan tabletop dalam pembuatan musik sangat meningkatkan kolaborasi dari partisipan.

    BalasHapus
  8. Ulasannya bagus, jung. Penasaran bagaimana teknologi ini ke depannya bisa diimplementasikan di bagian apa saja.

    BalasHapus